Ditengah kehidupan yang serba kompleks ini ternyata masih ada
orang-orang yang mempunyai keikhlasan yang luar biasa. Hal itu
ditunjukkan dalam bentuk memberikan kepeduliannya kepada orang lain
disaat orang lain sangat membutuhkan sebuah pertolongan. Sebut saja Ibu
Nyami yang dalam kesehariannya hanya bisa mengais rezeki dari pagi
hingga sore hari sebagai seorang pemulung jalanan yang ditemani oleh
anaknya yang masih kecil dan sebuah gerobak tua. Siapa sangka dan siapa
duga ia telah memberikan yang contoh terbaik dalam hidupnya ketika ia
dipertemukan sengan seorang Ibu Tua sebayanya yang meminta tolong
padanya agar membeli bunga kamboja seharga 30.000 rupiah dari Ibu Tua
itu demi untuk membayar keperluan uang sekolah anaknya.
Lain pula halnya dengan Pak Roni yang kesehariannya hanya sebagai
seorang pedagang buku gambar, buku cerita anak-anak, yang mengalami
cacat fisik itu yakni kakinya yang puntung sebelah dengan semangatnya
yang besar berkeliling kota Semarang hanya untuk berjuang hidup. Juga
telah memberikan nilai-nilai keteladanan yakni keikhlasan yang begitu
besar dalam hidupnya. Ketika Ia bertemu dengan seorang anak perempuan
yang ingin menjual botol loakan padanya seharga 20.000 rupiah untuk
membeli pakaian sekolah. Pak Roni menanyakan anak itu untuk apa ia
menjual botol itu. Anak itu menjawab bahwa untuk membeli pakaian
sekolah. Pak Roni pun merogoh kantongnya dan mengeluarkan semua uang
yang di dapatnya itu. Lalu memberikan kepada anak itu.
Melihat dua kisah diatas yang di alami oleh Ibu Nyami dan Pak Roni bagi
saya adalah sebuah kisah yang sangat mengharukan sekaligus menggelitik
kita semua. Bahwa ternyata dalam kehidupan ini, khususnya di kota-kota
besar masih ada sosok seperti Ibu Nyami dan Pak Roni yang punya
kepedulian yang begitu besar kepada orang lain. Padahal pekerjaan yang
ia jalani setiap harinya itu boleh di bilang masih jauh dari cukup atau
pas-pasan. Apakah karena Ibu Nyami dan Pak Roni selalu ikhlas dalam
menjalani hidup ini dan mensyukuri dengan apa yang mereka dapatkan dari
hasil pekerjaaannya. Itu masalah lain. Namun, aktiualisasi nilai-nilai
keikhlasan telah ia wujudkan dalam laku kehidupannya sehari-hari.
Jika ditelisik lebih jauh lagi, Ibu Nyami dan Pak Roni telah memahami
persis apa arti sebuah keikhlasan dalam kehidupan ini. Baginya, hidup
yang sementara ini ia manifestaskan dengan berbuat baik kepada orang
lain. Hanya itu saja yang ada dalam benak mereka. Tidak ada yang lain.
Selebihnya bagi mereka, tetap terus berjuang mengadu nasib untuk
memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Semua urusan itu ia serahkan kepada
Tuhan. Manusia hanya bisa bergerak dan berikhtiar, Tuhan yang memberikan
jawabannya dalam bentuk apa saja. Buktinya, mereka masih bisa bersyukur
dengan apa yang di jalankannya itu sebagai anugrah Tuhan. Ia masih bisa
mendapatkan rezeki setiap hari untuk bisa bertahan hidup.
Kisah-kisah keteladanan ini adalah merupakan sebuah gambaran pada kita
semua bahwa itulah salah satu makna hidup manusia dalam dirinya. Yang
menununtun dan membawanya ke dalam sebuah tuntunan kemuliaan. Ditengah
semakin sulitnya kepekaan-kepekaan manusia kepada sesama. Memberikan
sebuah contoh kisah keteladanan yang statusnya hanyalah sebagai seorang
yang selama ini kita pandang sebelah mata, namun kenyataannya ia telah
memberikan sebuah nilai-nilai keikhlasan dalam hidup ini. Suatu bukti
bahwa status manusia seperti pangkat, jabatan, golongan, pendidikan,
bukanlah segalanya dalam hidup ini. Yang segalanya adalah bagaimana
mem-fungsikan “rasa” kepekaan kita dalam kehidupan ini. Karena dalam
“rasa” itu sebenarnya disitulah sifat-sifat Tuhan selalu bersemayam.
Kisah cerita nyata ini saya angkat dari sebuah acara “minta tolong” di RCTI.